KOMPETENSI
PENGELOLA DALAM MENGATASI PERMASALAHAN TEKNIS PADA PUSAT LAYANAN INTERNET
KECAMATAN
MANAGEMENT’S
COMPETENCIES IN OVERCOMING TECHNICALISSUES ON SUBDISTRICT INTERNET CENTER
Marudur
P. DamanikKementerian Komunikasi dan InformatikaBalai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Komunikasi dan Informatika MedanJl. Tombak No. 31 Medan
marudur.p.d@kominfo.go.id
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kompetensi pengelolaPusat Layanan
Internet Kecamatan (PLIK) dalam mengatasi permasalahan teknis yangterjadi pada
PLIK di Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian
inimenggunakan pendekatan kualitatifdan dianalisis secara deskriptif.
Pengumpulan datadilakukan dengan cara mewawancarai para pengelola di 9
(sembilan) lokasi PLIK dan pihak Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Pontianak, disampingmelakukan observasi dan studi literatur.
Hasil penelitian menemukan bahwa kompetensiteknis pengelola PLIK terasa kurang
memadai, dimana umumnya pengelola hanya mampumenggunakan komputer dan aplikasi
secara umum, sedangkan dalam aspektroubleshooting dan penanganan permasalahan
teknis masih sangat kurang. Temuanlainyang dirasa cukup signifikan adalah
implementasi PLIK yang tidak sesuai yangdiharapkan, dimana terdapat 4 (empat)
lokasi PLIK yang terbengkalai dan penggunaansistem operasi non open source
pada perangkat komputer.Kata kunci: Kompetensi, SDM, Telecenter, PLIK, Permasalahan
teknis
ABSTRACT
This
study aimed to describe how management’s competencies play role inovercoming
technical issues on the subdistrict internet center (PLIK) in Pontianak
District,West Kalimantan. It uses qualitative approach and anayzed
descriptively. The informationwas collected through field studies by performing
in-depth interviews to PLIK managers in9 locations and also the authorized
officer in the department of transportation whoresponsible for handling
telecommunication affairs. This study also perform someobservations and
literature review. The result shows that the technical knowledge
and proficiency of the managers are still inadequate, where they are
only able to use computerin general and common applications. Likewise,
they are also considered lack of skills indealing with technical issues.
Another finding that quite significant is about the PLIKimplementation that is
not as expected, because there are 4 PLIKs that cannot be utilized,and the
illegal use of proprietary operating system.Keywords: Competence, Human
resource, Telecenter, PLIK, Technical issues
PENDAHULUAN
Saat
ini masyarakat duniabergerak dan berevolusi menuju kesebuah tatanan baru yang
dikenalsebagai era informasi ataumasyarakat informasi. Sebuahmasyarakat
informasi digambarkansebagai sebuah bangsa dimanamayoritas tenaga kerjanya
terdiridari pekerja informasi, dan informasimerupakan unsur yang palingpenting.
1
Masyarakat
informasi tidaklagi menjadikan informasi hanyasebagai sesuatu yang biasa,
namunsebagai komoditi atau sesuatu yangberharga hingga dapat dijual
kepadapengguna informasi. Sebuahmasyarakat informasi terbentuk olehsemakin
baiknya dunia pendidikandalam menciptakan tenaga-tenagaprofesional. Perubahan
ini jugadidorong oleh kemajuan teknologiyang ditandai dengan munculnyaberagam
produk teknologikomunikasi seperti televisi,komputer, telepon genggam, bahkan teknologi
internet yang melahirkan metode-metode komunikasi baruseperti e-mail,
mailing list, sertakomunitas maya. Perangkat sertametode
komunikasi ini membuat arusinformasi sedemikian cepat hinggamembuat jarak tidak
lagi membatasidalam melakukan transfer informasi.Pada tahun 2003 yangkemudian
dilanjutkan pada tahun2005 para pemimpin duniamelakukan pertemuan gunamembahas
isu-isu yang berhubungandengan teknologi informasi dankomunikasi (TIK) serta
pengaruhnyaterhadap kehidupan masyarakat didunia. Sebuah konferensi
tingkattinggi bernama
World
Summit on theInformation Society
(WSIS)
yangdiprakarsai oleh Perserikatan BangsaBangsa (PBB) bersama
denganInternational TelecommunicationUnion (ITU) menekankan bahwabetapa
pentingnya peranan TIKsebagai pilar utama menujumasyarakat informasi. Di sisi
lain jugadisepakati bahwa telah terjadikesenjangan digital di antara
negara-negara maju dan negara-negaraberkembang. Maka untukmengatasinya para
pemimpinnegara-negara di dunia sepakat untukmembuat target bahwa pada tahun2015
seluruh desa di setiap negarasudah terhubung dengan TIK, sertamemastikan bahwa
lebih darisetengah penduduk dunia sudahmendapatkan akses kepada
teknologiinformasi dan komunikasi.Dalam mendukung komitmenWSIS, Pemerintah
Republik Indonesiadalam hal ini KementerianKomunikasi dan Informatika(Kominfo)
memiliki sebuah programyang dinamakan KewajibanPelayanan Umum (
Universal
ServiceObligation
/USO)
di bidangtelekomunikasi. Program inidilaksanakan sesuai amanat Undang-Undang
No. 36 Tahun 1999 tentangTelekomunikasi, dimana pada pasal16 ayat (1)
disebutkan bahwa “
Setiap jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasiwajib
memberikan kontribusi dalam pelayanan universal
.”
Program USO
ini
memiliki agenda untukmemperluas akses informasi dankomunikasi hingga
wilayahperdesaan.Untuk mencapai tujuantersebut, sejak tahun 2003 programUSO
telah membuka akses teleponumum untuk tiap desa di Indonesia,dan hingga 2004
telah terbangunakses di 5.354 desa.Sebagai tindak lanjut daripenyediaan akses
telepon umum diperdesaan, di tahun 2009 programUSO dilanjutkan dengan
membangunPusat Layanan Internet Kecamatan(PLIK) dengan menyediakan 1 unit
server
dan
5 unit
personal computer
(PC)
client
serta
akses internetmelalui koneksi satelit. Program inibertujuan untuk membuka
aksesinternet ke seluruh wilayahkecamatan khususnya wilayahpelosok di
Indonesia. KeberadaanPLIK dapat dipandang sebagai sebuahterobosan baru dalam
memperluasakses informasi dan komunikasi bagimasyarakat. Dengan adanya
PLIKmasyarakat khususnya di perdesaandapat dengan mudah mendapatkaninformasi
pertanian, perdagangan,dan berbagai informasi lain yangdibutuhkan. Bagi
anak-anak PLIKjuga bermanfaat sebagai media dalammencari ilmu pengetahuan,
sertamembiasakan diri dalammenggunakan komputer daninternet.Sesungguhnya
program PLIKmerupakan langkah nyatapemerintah dalam mengatasikesenjangan
digital di Indonesia,namun pada pelaksanaanya dilapangan PLIK terasa
kurangtermanfaatkan. Berbagai kendala danpermasalahan timbul
dalamimplementasinya. Di beberapa lokasiterdapat kerusakan perangkat yanghingga
saat ini belum diperbaiki,bahkan salah satu PLIK di Pontianaktidak beroperasi
sejak awalpemasangan.Sebuah penelitian mencobamerumuskan
strategiimplementasinya, dimana salah satupoinnya adalah dengan
melakukanevaluasi secara langsung ke lokasi-lokasi PLIK berada.
2
Hal
ini bertujuanuntuk dapat memetakanpermasalahan-permasalahan yangterjadi hingga
dapat dicarikan solusisecara tepat. Namun hal ini tentumemberatkan mengingat
banyaknyajumlah PLIK yang dibangun, sehinggasangat membebani baik dalam
halwaktu maupun biayanya. Solusiterbaik adalah dengan memilikipengelola PLIK
dalam bidang TIKsehingga dapat memberikanpertolongan pertama ketikaperangkat
mengalami masalah.Dengan memiliki pengelola PLIK yangberkompeten dalam
mengoperasikanserta melakukan perawatanperangkat, diharapkan kerusakan
danmasalah yang terjadi di PLIK dapatdiselesaikan dengan cepat dan
tidakberlarut-larut.Dari uraian di atas makapenelitian ini bertujuan
untukmenjawab permasalahan yangdikerucutkan menjadi 2 (dua) poin,yaitu
pertama
,
untukmenggambarkan kompetensi
pengelola
PLIK, dan yang
kedua
,
untuk menjelaskan kompetensi apa yang dibutuhkan pengelola dalam mengatasi
permasalahan teknis di PLIK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
gambaran dari implementasi PLIK yang telah berjalan, serta diharapkan dapat
memberikan kontribusi dan masukan bagi pemerintah melalui Kementerian
Komunikasi dan Informatika maupun Pemerintah Daerah setempat khususnya dalam
menyelesaikan permasalahan-permasalahan di Pusat Layanan Internet Kecamatan.
Kompetensi
Satu
hal yang menjadi kunci dalam mengimplementasikan pengelolaan sumber daya manusia
(SDM) yang efektif adalah dengan peningkatan dan pengembangan kompetensi SDM
pada setiap tugas dan pekerjaan. Hal ini dikarenakan kompetensi individu
biasanya sangat terkait dengan tugas dan kinerja organisasi, dimana peningkatan
kompetensi individu akan diikuti dengan peningkatan kualitas kerja dan kinerja
organisasi.
3
Kompetensi
dalam sebuah organisasi atau perusahaan bertujuan untuk pembentukan dan
evaluasi pekerjaan, rekrutmen dan seleksi, pembentukan dan pengembangan
organisasi dan budaya perusahaan, pembelajaran perusahaan, manajemen karier,
serta sistem imbal jasa.
4
Kompetensi menunjukkan keterampilan atau
pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam bidang tertentu sebagai
sesuatu yang terpenting, sebagai unggulan di bidang tersebut.
5
Kompetensi
juga dapat dipandang sebagaikarakteristik dasar seseorang yang dapat
menghasilkan kinerja yang efektif dan memuaskan dalam sebuah situasi atau
pekerjaan.
6
Di
sini Spencer dan Spencer mengidentifikasi 5 (lima) jenis karakteristik
kompetensi yang terdiri dari motif, sifat, konsep diri, pengetahuan, dan
keterampilan.Motif adalah hal-hal yang menstimulasi tindakan seseorang. Motif
juga berperan dalam mendorong, mengarahkan dan memilih untuk melakukan suatu
tindakan terentu. Sifat merupakan ciri fisik dan reaksi-reaksi yang bersifat
tetap terhadap situasi atau ketika menerima informasi. Konsep diri merupakan
sikap, nilai atau gambaran diri yang dimiliki seseorang. Pengetahuan adalah
informasi yang dimiliki seseorang pada suatu bidang yang spesifik. Sedangkan
keterampilan merupakan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas
tertentu. Karakteristik kompetensi tersebut diwujudkan dalam model kompetensi
gunung es dan model kompetensi inti dan permukaan. Dalam model kompetensi
gunung es terdapat karakteristik kompetensi yang tampak dan yang tersembunyi.
Aspek keterampilan dan pengetahuan termasuk dalam karakteristik kompetensi yang
tampak dan berada di permukaan, karena pada kenyataannya karakteristik
kompetensi ini hanyalah sesuatu yang mudahdipelajari dan dikembangkan.Sedangkan
aspek motif, sifat, dankonsep diri merupakan karakteristikkompetensi yang
sifatnyatersembunyi, namun merupakanunsur penting yang membedakanantara orang
yang berkinerja lebihunggul dibandingkan dengan oranglain.
7
Model kompetensigunung es dan model kompetensi intidan permukaan.Dengan kata
lain, karakteristikkompetensi yang tampak sepertipengetahuan dan keterampilan
dapatdikatakan sebagai kompetensi teknisyang pada dasarnya diperlukan untukmenyelesaikan
suatu pekerjaan,sedangkan karakteristik kompetensiyang tersembunyi yaitu motif,
sifatdan konsep diri merupakankompetensi sikap yang terkaitdengan kualitas
hasil dari suatupekerjaan.
3
Konsep
Internet Publik
Dalam
banyak penelitianmengungkapkan, kemudahan dalammengakses dan
memperolehinformasi cukup berpotensi dalammengubah tatanan ekonomi dansosial
dalam sebuah masyarakat.
8
Namun
demikian hal ini juga sangatmemungkinkan terjadinyaketimpangan informasi
yangdisebabkan oleh tidak meratanyaakses kepada teknologi informasi,dimana
terdapat suatu wilayah yangsangat kaya akan informasi, namun dilain hal
terdapat wilayah yang sangatminim akan informasi. Perbedaanyang sangat kontras
terlihat mulaidari perkembangan infrastrukturtelekomunikasi yang
umumnyaterkonsetrasi pada wilayahperkotaan ataupun ibukota suatudaerah
9
,
yang berimbas pada tidakmeratanya pembangunan saranakomunikasi dan informasi,
danberujung pada terjadinya suatukesenjangan digital (
digital
divide
).Untuk
mengatasi hal tersebut,terdapat suatu konsep yang diyakinidapat menjembatani
danmempersempit kesenjangan digitalyaitu dengan membangun suaturuang publik
yang menyediakanakses internet dan layanan TIKkepada masyarakat umum
khususnyadi wilayah yang kekurangan aksesdan infrastruktur TIK. Hal
inibertujuan agar masyarakat yangtidak memiliki akses internet pribaditetap
dapat menikmati layanan TIKterutama sambungan internet. Secaraumum terdapat 3
(tiga) bentukimplementasi dari internet publik,yaitu
telecenter
,
internet
café
,
dan
internet
access point.
10
Ketiga
bentukinternet publik ini dibedakanberdasarkan kepemilikan, lokasi,pembiayaan,
serta fasilitas-fasilitasyang tersedia di dalamnya.
Pusat
Layanan Internet Kecamatan(PLIK)
Dalam
mengatasi kesenjangandigital yang terjadi dan menjalankanhasil komitmen WSIS
untukmenghubungkan semua desa denganTIK pada tahun 2015, KementerianKomunikasi
dan InformatikaRepublik Indonesia telah melakukansejumlah kebijakan antara
lainmelaksanakan program KewajibanPelayanan Universal/KPU (UniversalService
Obligation/USO) seperti yangtertuang pada Peraturan MenteriKominfo
Nomor32/PER/M.KOMINFO/10/2008. Salahsatu bentuk program USOKementerian
Komunikasi danInformatika adalah penyediaan jasaakses internet pada
WilayahPelayanan Universal Telekomunikasi(WPUT)internet kecamatan yangterbagi
dalam 11 (sebelas) area.Program penyediaan jasa aksesinternet wilayah kecamatanKPU/USO
dilaksanakan denganmembangunkios internet publik yangdinamakan Pusat Layanan
InternetKecamatan (PLIK). Sarana iniditargetkan akan dibangun padasetiap
ibukota kecamatan yangberjumlah 5.748 Satuan SambunganLangsung (SSL) yang
tersebar diseluruh wilayah Indonesia (kecualiDKI Jakarta) sehingga
memungkinkanter- selenggaranya layanan internetdan penyebaran informasi lainnya
didaerah-daerah non komersial.Konsep PLIK di sinisesungguhnya bukanlah
sepertiwarung internet (warnet) padaumumnya. Terdapat aplikasi portalyang
menjadi tampilan awal setelahpengguna melakukan proses loginmelalui
aplikasi.Aplikasi portal tidakhanya sebagai pintu masuk menujusuatu aplikasi
ataupun konten yangdikehendaki oleh pengguna, namunjuga merupakan
single
point of view
bagi
pengguna, karena aplikasi portalmenampilkan semua aplikasi danlayanan yang
dapat diakses/digunakan oleh pengguna sepertiaplikasi perkantoran (
office
),
konten,dan lain sebagainya.
METODE
PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakanpendekatan kualitatif dengan metodedeskriptif. Lokasi
penelitianmengambil tempat di KabupatenPontianak Provinsi Kalimantan Barat,dan
sumber data atau informandalam penelitian ini adalah parapengelola PLIK di
KabupatenPontianak, pihak Dinas Perhubungan,Kebudayaan dan PariwisataKabupaten
Pontianak, yang manasalah satu bagiannya menanganibidang telekomunikasi,
sertaPemerintah Kecamatan setempat.Pengumpulan data dilaksanakanpada bulan
Maret 2012, dandilakukan dengan tiga cara.
Pertama
,dengan
melakukan wawancaramendalam kepada para pengelolaPLIK di Kabupaten Pontianak
yangbertindak sebagai informankunci.Wawancara juga dilakukankepada pihak Dinas
Perhubungan,Kebudayaan dan PariwisataKabupaten Pontianak dan Pemerintah
Kecamatan setempatuntuk mendapat informasi tambahan.
Kedua
,
dengan melakukan observasiterhadap kondisi PLIK di masing-masing kecamatan
untuk mengamatisecara cermat, serta mencatattemuan-temuan yang relevan.Yang
ketiga
adalah
dengan melakukanstudi literatur melalui buku-buku danpenelitian-penelitian terdahulu.Analisis
data kualitatif dimulaidari analisis berbagai data yangdiperoleh dari lapangan,
baik dengancara wawancara, observasi, maupundokumentasi yang bersumber
daribuku, literatur dan foto. Data tersebutkemudian diklasifikasikan ke
dalamkategori-kategori tertentu yangdisesuaikan dengan permasalahandan tujuan
penelitian.Pengklasifikasian ataupengkategorian ini harus mem-pertimbangkan
kesahihan dankevalidan data denganmemperhatikan kompetensi subjekpenelitian,
tingkat autensitasnya danmelakukan triangulasi sumber data.Terakhir adalah dengan
menyajikandata dengan merangkai danmenyusun informasi dalam bentuksatu
kesatuan, selektif, serta dapatdipahami.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Kondisi
Umum dan Permasalahanpada PLIK di Kabupaten Pontianak
Berdasarkan
data yangdiperoleh, Kabupaten Pontianakmendapat 9 (sembilan) set perangkatPLIK
yang masing-masing disebar ke9 (sembilan) kecamatan. Hasilpengamatan langsung
terhadap PLIKdi Kabupaten Pontianak menemukanbeberapa hal yang perlu
dicermati.Secara fisik, kondisi perangkat kerasserta instalasi PLIK umumnya
masihdalam keadaan baik mengingat umurperangkat yang tergolong masih baru.Adapun
kerusakan komputer sepertiyang terjadi di Kecamatan Siantandisebabkan bukan
karena kualitasperangkat yang kurang baik,melainkan karena faktor
eksternalyaitu karena kebanjiran.Berdasarkan Tabel 1, satu-satunya perangkat
yang kualitasnyapatut dipertanyakan adalah UPS,mengingat perangkat ini
mengalamikerusakan di hampir semua lokasiPLIK. UPS (
Uninteraptible
PowerSupply
)
adalah perangkat yangberfungsi sebagai
backup
catu
daya.Perangkat ini diperlukan untukmenjaga komputer
server
billing
dariputusnya
aliran listrik PLN secaratiba-tiba yang dapat mengakibatkanhilangnya data
pemakaianpengunjung dan juga kerusakan padasistem operasi dan perangkat
lunak.Penyebab kerusakan UPS memangbelum diketahui secara pasti karenaperlu
pemeriksaan oleh teknisi,namun diperkirakan penyebabnyaadalah kondisi listrik
yang tidakstabil.Kemudian yang cukup menjadiperhatian adalah
penggunaanperangkat lunak termasuk sistemoperasi. Sistem operasi yangdigunakan
secara resmi untukprogram PLIK adalah sistem operasiLinux yang berbasis open
source
Penggunaan
sistem operasi Linuxdalam program PLIK bertujuan untukmensosialisasikan
penggunaan
opensource
software
(OSS)
di masyarakat.Di samping itu penggunaan sistemoperasi Linux bertujuan
untukmenekan penggunaan sistem operasibajakan/illegal. Namun hal yangditemukan
justru sebaliknya.Kebanyakan PLIK yang berada diKabupaten Pontianak telah
dirubahke sistem operasi komersial(Windows OS) bajakan. Penggunaanperangkat
lunak bajakan tentunyasudah menyalahi tujuan PLIK itusendiri dalam
mensosialisasikanpenggunaan perangkat lunak
opensource
.Beberapa
alasan yangdikemukakan para pengelola terkaitpenggantian sistem operasi PC
client
menjadi
Windows ilegal umumnyakarena penggunaan Linux yangdinilai cukup merepotkan,
disampingalasan teknis lainnya seperti gagalnyaproses
log-in
akibat
password
yangtidak
sesuai. Namun secara umumdapat diketahui bahwa penggantiansistem operasi lebih
dikarenakantidak familiarnya para pengelola danpengguna PLIK dalam
menggunakansistem operasi Linux.Penggunaan sistem operasiberbasis
open
source
seperti
Linuxdalam program PLIK sesungguhnyaadalah langkah yang sangat tepatdalam
memperkenalkan masyarakatakan OSS. Disamping itupenggunaannya juga
mendidikmasyarakat untuk tidakmenggunakan perangkat lunakbajakan karena
tentunyabertentangan dengan hukum. Namundi lain hal, penggunaan perangkatlunak
open
source
terasa
kurangfamiliar di kalangan masyarakatterlebih bagi yang masih awamdengan
komputer dan internet. Olehkarena itu penggunaan OSS dalamPLIK mestinya
didahului dengan
pengenalan
dan pelatihan OSS bagipengelola, sehingga pengelola jugadapat memberikan
pendampinganbagi masyarakat pengguna PLIK yangkesulitan ketika menggunakan
OSS.Hasil pengamatan langsung kelapangan juga menemukan beberapapermasalahan
dalam implementasidan penerapannya. Melihat darikendala operasional,
pengirimanvoucher internet merupakan masalahyang utama. Di dalam sistem
PLIK,voucher internet ibarat pulsa padatelepon genggam. Jika pulsa padasebuah
telepon genggam telah habis,tentunya si pengguna tidak akandapat melakukan
komunikasi.Demikian juga jika voucher internetpada server PLIK sudah
habis,pengunjung tidak akan dapatmenggunakan layanan internet diPLIK. Di
samping itu sistem
voucher
dibuat
agar provider dapat mendataseberapa banyak penggunaansambungan internet
olehpengunjung. Berdasarkan informasiyang diperoleh dari petugas
DinasPerhubungan, pengiriman voucherinternet oleh ISP dilakukan
secaraelektronik menggunakan nomoridentitas jaringan, dan setiap PLIKmemiliki
nomor identitas jaringanyang unik. Oleh karena itudiperkirakan masalah
dalampengiriman voucher internet dibeberapa lokasi PLIK terjadidisebabkan
adanya kekeliruan datanomor jaringan pada ISP.Kegagalan dalam pengirimanvoucher
internet mengakibatkanPLIK tidak dapat beroperasi, sepertiyang terjadi pada
KecamatanMempawah Hilir, Sungai Kunyit, danSegedong, dimana PLIK bahkanbelum
pernah beroperasi dari sejakawal pemasangan. Mengingat waktupemasangan yang
berlangsungsekitar bulan Agustus 2010, makaterdapat kurang lebih 1,5
tahunperangkat PLIK terbengkalai dantidak termanfaatkan. Dalam hal inikurangnya
dukungan teknis olehpihak penyedia juga dirasakan.Dari uraian di atas, maka
dapatdirangkum 2 (dua) halyang dapatdianggap menjadi kendala danpermasalahan
yang bersifat teknisyang terjadi pada PLIK di KabupatenPontianak yaitu (1)
kerusakanbeberapa perangkat, baik ituperangkat komputer ataupunperangkat
pendukung jaringan; dan(2) Penggunaan sistem operasi danperangkat lunak
ilegal/bajakan.Disamping itu juga terdapat 1 (satu)permasalahan yang dianggap
bukanpermasalahan teknis, namun lebihpada aspek kebijakan dimana haltersebut
tidak terkait padakompetensi pengelola, yaitu perihalterkendalanya pengiriman
voucherinternet yang mengakibatkan tidakberoperasinya PLIK.
Kompetensi
Pengelola di BidangTIK
Seperti
yang telah diuraikansebelumnya, kompetensi SDM sangatberpengaruh pada kualitas
hasil kerjaindividu dan kinerja organisasi.Demikian pula halnya dalammengelola
PLIK yang terdiri dariperangkat-perangkat komputer
beserta
jaringannya,adalah suatukeharusan bagi SDM pengelolamemiliki kompetensi teknis
di bidangTIK. Hal ini diperlukan untukmenjamin bahwa PLIKdapat berjalandengan
baik tanpa terkendalapermasalahan teknis dan perangkat.Kompetensi teknis yang
terdiridari aspek pengetahuan dan aspekketerampilan dapat diukur
melaluibeberapa indikator. Aspekpengetahuan diukur denganindikator-indikator
yaitu (1) tingkatpendidikan formal; (2) pelatihanteknis yang pernah diikuti;
(3)kemampuan menguasai pekerjaan.Sedangkan aspek keterampilandiukur dengan
indikator-indikator:(1) petunjuk teknis pekerjaan; dan(2) ketelitian dalam
menyelesaikanpekerjaan.
11
Pendidikan
formal merupakandasar utama dalam memperolehpengetahuan umum danketerampilan,
meskipun pendidikannon formal seperti pelatihan dankursus juga mampu
meningkatkanpengetahuan, keterampilan,profesionalitas, produktivitas sertadaya
saing.
12
Dari
segi pendidikantidak satupun pengelola PLIK pernahmengenyam pendidikan formal
dibidang TIK ataupun komputer.Demikian halnya dengan pendidikannon formal,
dimana hanya satupengelola yang pernah mengikutikursus komputer. Umumnya
merekamemperoleh pengetahuan mengenaikomputer melalui pembelajaranmandiri
secara otodidak serta daribuku-buku.Dari aspek penguasaankomputer dan aplikasi,
parapengelola lebih berpengalamanmenggunakan sistem operasiWindows beserta aplikasipendukungnya,
namun pengetahuandalam mengoperasikan sistemoperasi berbasis
open
source
terlihatsangat
minim. Hanya pengelola dariKecamatan Anjongan yang mengakumengerti
mengoperasikan Linuxsebagai sistem operasi. Rendahnyatingkat pemahaman akan
sistemoperasi Linux tentunya dapatmenggambarkan mengapa umumnyasistem operasi
komputer di PLIKtelah diubah dari Linux ke Windows.Disamping itu
pengetahuanpengelola dalam aspek teknisperangkat keras (
hardware
)komputer
serta penanganan masalahdalam komputer juga masih cukuprendah, kebanyakan dari
merekatidak memahami fungsi-fungsiperangkat keras komputer, terlebihlagi dalam
hal mendiagnosa danmemperbaiki atau menggantiperangkat yang rusak.
Sehinggaketika terjadi kegagalan dankerusakan pada perangkat pengelolaumumnya
berkonsultasi denganteknisi. Selengkapnya matrikkompetensi teknis para
pengelolaPLIK di Kabupaten Pontianakdisajikan dalam Tabel 2.Begitupun
penguasaan dalamhal administrasi jaringan masihbelum memadai, dimana terdapat
4(empat) pengelola yang sama sekalitidak memahami konsep jaringankomputer.
Lemahnya pengetahuan
pengelola
dalam aspek teknisperangkat keras dan jaringankomputer mengakibatkan
pengelolabelum dapat menangani masalahsecara mandiri dan sangatbergantung pada
bantuan teknisikomputer.“
…
untuk kerusakan perangkatbiasanya kami menggunakan jasaorang lain
”.(Wawancara:
Bpk. Hifni, S.Pd.,Pengelola PLIK Sungai Kunyit)
Kompetensi
yang Dibutuhkandalam Pengelolaan PLIK
Jika
melihat dari kebutuhankerja yang ada dan permasalahanyang terjadi pada PLIK,
sertaberdasarkan kategori kompetensi TIKyang dikemukakan oleh Sadikin(2011),
maka dibutuhkan kompetensiteknis yang setara dengankompetensi seorang
technicalsupport
.
Merujuk pada StandarKompetensi Kerja Nasional Indonesia(SKKNI) Sektor Teknologi
Informasidan Komunikasi, maka keahlian atauunit kompetensi yang
dibutuhkanseorang
technical
support
dapatdibagi
kepada 4 (empat) unsur yaituperangkat keras (
hardware
),perangkat
lunak (
software
),perangkat
jaringan, dan keamanan.Untuk memenuhi kebutuhanakan kompetensi
tersebutseyogyanya pengelola PLIK dipilihdengan lebih selektif di manasebaiknya
memiliki pengetahuan dibidang TIK atau pendidikan yangmendukung hal tersebut.
Sebagai
alternatif lain,pemberian pelatihan-pelatihanmengenai teknis jaringan
komputerdan perangkat juga sangat baik untukdilakukan. Pelatihan dirasa
cukupefektif untuk mengembangkanpengetahuan dan kompetensipegelola di
bidang TIK. Sebab tidakdapat dipungkiri, pengetahuan teknisseperti perbaikandan
instalasiperangkat lunak/keras merupakanhal yang sangat penting untukdimiliki pengelola
PLIK, sehingga jikaterjadi permasalahan pada perangkatdapat segera dideteksi
dan ditanganisendiri. Hal ini tentu cukupmenghemat waktu dan biaya
jikadibandingkan dengan harusmenggunakan jasa teknisi.
SIMPULAN
Sesuai
tujuan penelitian ini,terdapat 2 (dua) hal yang menjadikesimpulan.Yang
pertama
adalahbahwa
kompetensi teknis pengelolaPLIK di bidang TIK masih dirasa
belum
cukup memadai dan masihperlu untuk ditingkatkan.Hal inididasarkan pada unit
kompetensiyang terdapat pada SKKNI bidangComputer Technical
Support.Pengelola umumnya hanya memilikipengetahuan dasar dalammengoperasikan
komputer danaplikasi, sedangkan dalam aspekpengetahuan dalam
menggunakanaplikasi
opensource
,jaringankomputer,
dan pemahaman perangkatkeras serta penanganan masalah(
troubleshoot
)
masih sangat kurang.Sebagai kesimpulan yang
kedua
,kompetensi
yang dibutuhkanpengelola PLIK dalam mengatasipermasalahan teknis
adalahkompetensi seorang
technical
support
,yang
meliputi pengetahuan dankeahlian dalam melakukan instalasi,konfigurasi,
upgrading
,
perawatan,diagnosa dan perbaikan perangkatlunak, perangkat keras,
sertaperangkat jaringan.Disamping itu jugamemiliki pengetahuan dalam
aspekkeamanan seperti mencegah, danmengambil tindakan ketika terjadiserangan
virus pada kondisimenggunakan sistem operasi non
open
source
,
serta mampu melakukan
backup
data
serta
recovery
ketikaterjadi
kegagalan pada sistemkomputer.Sebagai rekomendasi, dari hasilpenelitian ini
diharapkan adanyapengembangankompetensi teknisberupa peningkatan pengetahuan
danketerampilan pengelola PLIK dibidang TIK.Pengembangankompetensi dapat
dilakukan denganmemberikan pendidikan danpelatihanbagi pengelola sehinggamereka
dapat lebih mandiri ketikaterjadi permasalahan di lapangan.Suatu permasalahan
yang terjadidi satu PLIK dapat menjadipembelajaran bagi PLIK lainnya.
Olehkarena itu Kominfo ataupun pihakpenyedia seyogyanyadapatmemfasilitasi
sebuah wadahkomunikasi maya semisal forumataupun
mailing
list
antara
parapengelola, pihak penyedia, danKominfo.Hal ini dapat menjadialternatif media
komunikasi untukberbagi informasi dan pengalamanseputar PLIK dan
permasalahannya.
DAFTAR
PUSTAKA
1
Rogers,
E. M. 1986.
CommunicationTechnology:
The New Media inSociety
.
New York: Free Press.
2
Prianova,
Indra Pratama. 2010.
Strategi
ImplementasiPenyediaan Pusat LayananInternet Kecamatan (PLIK) padaPelaksanaan
KewajibanPelayanan UniversalTelekomunikasi (KPU/USO) diIndonesia
.
Thesis. UniversitasIndonesia, Jakarta
3
Vathanophas,
V. & Thai-ngam, J.2007.
Competency
Requirements for Effective Job Performance inThai
Public Sector
.Contemporary
ManagementResearch, 3 (1): 45-70.
4
Hutapea,
P., Nurianna, T. 2008.
Kompetensi
Plus
.
Jakarta: PTGramedia Pustaka Utama
5
Wibowo.
2007.
Manajemen
Kinerja
.Jakarta:
PT RajaGrafindoPersada.
6
Spencer,
Lyle M., Jr. and Spencer,Signe M. 1993.
Competence
AtWork
.
New York: John Wiley &Sons, Inc.
7
Wijayanto,
A., dkk. 2011.
Faktor- faktor yang MempengaruhiKompetensi
Kerja Karyawan
.Manajemen
IKM, 6 (2): 81-87.
8
Rogers,
E. M., Shukla, P., 2001.
TheRole
of Telecenters inDevelopment Communication andthe Digital Divide
.
Journal ofDevelopment Communication 2(12): 26-31.
9
Mutula,
Stephen M. 2003.
Cyber
caféindustry in Africa
.
Journal ofInformation Science, 29.
10
Wahid,
F., Furuholt, B., Kristiansen,S. 2004.
Global
Diffusion of theInternet III: Information Diffusion Agents and the Spread of
InternetCafés in Indonesia
.Communication
of theAssociation for InformationSystem, 13: 589-614.
11
Budiyasa,
I Made Astika. 2010.
Pengaruh
Motivasi Kerja,Kepuasan Kerja, DanKemampuan Kerja TerhadapPrestasi Kerja
Karyawan PadaPT. Sumber Alam Semesta DiBangli
.
Thesis. UniversitasUdayana, Denpasar.
http://www.pps.unud.ac.id diakes
tanggal 17 September 2012.
12
Hiryanto.
2009.
MeningkatkanEfektivitas
Pendidikan Nonformaldalam Pengembangan KualitasManusia
.
Makalah. UniversitasNegeri Yogyakarta, Yogyakarta.
http:/
/staff.uny.ac.id diaksestanggal
26 September 2012.