Jumat, 18 November 2016

Jurnal teknologi Informasi dan Komunikasi

KOMPETENSI PENGELOLA DALAM MENGATASI PERMASALAHAN TEKNIS PADA PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN
MANAGEMENT’S COMPETENCIES IN OVERCOMING TECHNICALISSUES ON SUBDISTRICT INTERNET CENTER
Marudur P. DamanikKementerian Komunikasi dan InformatikaBalai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika MedanJl. Tombak No. 31 Medan
marudur.p.d@kominfo.go.id
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kompetensi pengelolaPusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dalam mengatasi permasalahan teknis yangterjadi pada PLIK di Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatifdan dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan datadilakukan dengan cara mewawancarai para pengelola di 9 (sembilan) lokasi PLIK dan pihak Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pontianak, disampingmelakukan observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menemukan bahwa kompetensiteknis pengelola PLIK terasa kurang memadai, dimana umumnya pengelola hanya mampumenggunakan komputer dan aplikasi secara umum, sedangkan dalam aspektroubleshooting dan penanganan permasalahan teknis masih sangat kurang. Temuanlainyang dirasa cukup signifikan adalah implementasi PLIK yang tidak sesuai yangdiharapkan, dimana terdapat 4 (empat) lokasi PLIK yang terbengkalai dan penggunaansistem operasi non open source pada perangkat komputer.Kata kunci: Kompetensi, SDM, Telecenter, PLIK, Permasalahan teknis
ABSTRACT
This study aimed to describe how management’s competencies play role inovercoming technical issues on the subdistrict internet center (PLIK) in Pontianak District,West Kalimantan. It uses qualitative approach and anayzed descriptively. The informationwas collected through field studies by performing in-depth interviews to PLIK managers in9 locations and also the authorized officer in the department of transportation whoresponsible for handling telecommunication affairs. This study also perform someobservations and literature review. The result shows that the technical knowledge and proficiency of the managers are still inadequate, where they are only able to use computerin general and common applications. Likewise, they are also considered lack of skills indealing with technical issues. Another finding that quite significant is about the PLIKimplementation that is not as expected, because there are 4 PLIKs that cannot be utilized,and the illegal use of proprietary operating system.Keywords: Competence, Human resource, Telecenter, PLIK, Technical issues




PENDAHULUAN
Saat ini masyarakat duniabergerak dan berevolusi menuju kesebuah tatanan baru yang dikenalsebagai era informasi ataumasyarakat informasi. Sebuahmasyarakat informasi digambarkansebagai sebuah bangsa dimanamayoritas tenaga kerjanya terdiridari pekerja informasi, dan informasimerupakan unsur yang palingpenting.
1
Masyarakat informasi tidaklagi menjadikan informasi hanyasebagai sesuatu yang biasa, namunsebagai komoditi atau sesuatu yangberharga hingga dapat dijual kepadapengguna informasi. Sebuahmasyarakat informasi terbentuk olehsemakin baiknya dunia pendidikandalam menciptakan tenaga-tenagaprofesional. Perubahan ini jugadidorong oleh kemajuan teknologiyang ditandai dengan munculnyaberagam produk teknologikomunikasi seperti televisi,komputer, telepon genggam, bahkan teknologi internet yang melahirkan metode-metode komunikasi baruseperti e-mail, mailing list, sertakomunitas maya. Perangkat sertametode komunikasi ini membuat arusinformasi sedemikian cepat hinggamembuat jarak tidak lagi membatasidalam melakukan transfer informasi.Pada tahun 2003 yangkemudian dilanjutkan pada tahun2005 para pemimpin duniamelakukan pertemuan gunamembahas isu-isu yang berhubungandengan teknologi informasi dankomunikasi (TIK) serta pengaruhnyaterhadap kehidupan masyarakat didunia. Sebuah konferensi tingkattinggi bernama
World Summit on theInformation Society
(WSIS) yangdiprakarsai oleh Perserikatan BangsaBangsa (PBB) bersama denganInternational TelecommunicationUnion (ITU) menekankan bahwabetapa pentingnya peranan TIKsebagai pilar utama menujumasyarakat informasi. Di sisi lain jugadisepakati bahwa telah terjadikesenjangan digital di antara negara-negara maju dan negara-negaraberkembang. Maka untukmengatasinya para pemimpinnegara-negara di dunia sepakat untukmembuat target bahwa pada tahun2015 seluruh desa di setiap negarasudah terhubung dengan TIK, sertamemastikan bahwa lebih darisetengah penduduk dunia sudahmendapatkan akses kepada teknologiinformasi dan komunikasi.Dalam mendukung komitmenWSIS, Pemerintah Republik Indonesiadalam hal ini KementerianKomunikasi dan Informatika(Kominfo) memiliki sebuah programyang dinamakan KewajibanPelayanan Umum (
Universal ServiceObligation
/USO) di bidangtelekomunikasi. Program inidilaksanakan sesuai amanat Undang-Undang No. 36 Tahun 1999 tentangTelekomunikasi, dimana pada pasal16 ayat (1) disebutkan bahwa “
Setiap jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasiwajib memberikan kontribusi dalam pelayanan universal
.” Program USO
ini memiliki agenda untukmemperluas akses informasi dankomunikasi hingga wilayahperdesaan.Untuk mencapai tujuantersebut, sejak tahun 2003 programUSO telah membuka akses teleponumum untuk tiap desa di Indonesia,dan hingga 2004 telah terbangunakses di 5.354 desa.Sebagai tindak lanjut daripenyediaan akses telepon umum diperdesaan, di tahun 2009 programUSO dilanjutkan dengan membangunPusat Layanan Internet Kecamatan(PLIK) dengan menyediakan 1 unit
server 
 dan 5 unit
 personal computer 
 (PC)
client 
 serta akses internetmelalui koneksi satelit. Program inibertujuan untuk membuka aksesinternet ke seluruh wilayahkecamatan khususnya wilayahpelosok di Indonesia. KeberadaanPLIK dapat dipandang sebagai sebuahterobosan baru dalam memperluasakses informasi dan komunikasi bagimasyarakat. Dengan adanya PLIKmasyarakat khususnya di perdesaandapat dengan mudah mendapatkaninformasi pertanian, perdagangan,dan berbagai informasi lain yangdibutuhkan. Bagi anak-anak PLIKjuga bermanfaat sebagai media dalammencari ilmu pengetahuan, sertamembiasakan diri dalammenggunakan komputer daninternet.Sesungguhnya program PLIKmerupakan langkah nyatapemerintah dalam mengatasikesenjangan digital di Indonesia,namun pada pelaksanaanya dilapangan PLIK terasa kurangtermanfaatkan. Berbagai kendala danpermasalahan timbul dalamimplementasinya. Di beberapa lokasiterdapat kerusakan perangkat yanghingga saat ini belum diperbaiki,bahkan salah satu PLIK di Pontianaktidak beroperasi sejak awalpemasangan.Sebuah penelitian mencobamerumuskan strategiimplementasinya, dimana salah satupoinnya adalah dengan melakukanevaluasi secara langsung ke lokasi-lokasi PLIK berada.
2
 Hal ini bertujuanuntuk dapat memetakanpermasalahan-permasalahan yangterjadi hingga dapat dicarikan solusisecara tepat. Namun hal ini tentumemberatkan mengingat banyaknyajumlah PLIK yang dibangun, sehinggasangat membebani baik dalam halwaktu maupun biayanya. Solusiterbaik adalah dengan memilikipengelola PLIK dalam bidang TIKsehingga dapat memberikanpertolongan pertama ketikaperangkat mengalami masalah.Dengan memiliki pengelola PLIK yangberkompeten dalam mengoperasikanserta melakukan perawatanperangkat, diharapkan kerusakan danmasalah yang terjadi di PLIK dapatdiselesaikan dengan cepat dan tidakberlarut-larut.Dari uraian di atas makapenelitian ini bertujuan untukmenjawab permasalahan yangdikerucutkan menjadi 2 (dua) poin,yaitu
 pertama
, untukmenggambarkan kompetensi
pengelola PLIK, dan yang
kedua
, untuk menjelaskan kompetensi apa yang dibutuhkan pengelola dalam mengatasi permasalahan teknis di PLIK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran dari implementasi PLIK yang telah berjalan, serta diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan bagi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika maupun Pemerintah Daerah setempat khususnya dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan di Pusat Layanan Internet Kecamatan.
Kompetensi
Satu hal yang menjadi kunci dalam mengimplementasikan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang efektif adalah dengan peningkatan dan pengembangan kompetensi SDM pada setiap tugas dan pekerjaan. Hal ini dikarenakan kompetensi individu biasanya sangat terkait dengan tugas dan kinerja organisasi, dimana peningkatan kompetensi individu akan diikuti dengan peningkatan kualitas kerja dan kinerja organisasi.
3
Kompetensi dalam sebuah organisasi atau perusahaan bertujuan untuk pembentukan dan evaluasi pekerjaan, rekrutmen dan seleksi, pembentukan dan pengembangan organisasi dan budaya perusahaan, pembelajaran perusahaan, manajemen karier, serta sistem imbal jasa.
4
 Kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam bidang tertentu sebagai sesuatu yang terpenting, sebagai unggulan di bidang tersebut.
5
Kompetensi juga dapat dipandang sebagaikarakteristik dasar seseorang yang dapat menghasilkan kinerja yang efektif dan memuaskan dalam sebuah situasi atau pekerjaan.
6
Di sini Spencer dan Spencer mengidentifikasi 5 (lima) jenis karakteristik kompetensi yang terdiri dari motif, sifat, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan.Motif adalah hal-hal yang menstimulasi tindakan seseorang. Motif juga berperan dalam mendorong, mengarahkan dan memilih untuk melakukan suatu tindakan terentu. Sifat merupakan ciri fisik dan reaksi-reaksi yang bersifat tetap terhadap situasi atau ketika menerima informasi. Konsep diri merupakan sikap, nilai atau gambaran diri yang dimiliki seseorang. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki seseorang pada suatu bidang yang spesifik. Sedangkan keterampilan merupakan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. Karakteristik kompetensi tersebut diwujudkan dalam model kompetensi gunung es dan model kompetensi inti dan permukaan. Dalam model kompetensi gunung es terdapat karakteristik kompetensi yang tampak dan yang tersembunyi. Aspek keterampilan dan pengetahuan termasuk dalam karakteristik kompetensi yang tampak dan berada di permukaan, karena pada kenyataannya karakteristik kompetensi ini hanyalah sesuatu yang mudahdipelajari dan dikembangkan.Sedangkan aspek motif, sifat, dankonsep diri merupakan karakteristikkompetensi yang sifatnyatersembunyi, namun merupakanunsur penting yang membedakanantara orang yang berkinerja lebihunggul dibandingkan dengan oranglain.
7 Model kompetensigunung es dan model kompetensi intidan permukaan.Dengan kata lain, karakteristikkompetensi yang tampak sepertipengetahuan dan keterampilan dapatdikatakan sebagai kompetensi teknisyang pada dasarnya diperlukan untukmenyelesaikan suatu pekerjaan,sedangkan karakteristik kompetensiyang tersembunyi yaitu motif, sifatdan konsep diri merupakankompetensi sikap yang terkaitdengan kualitas hasil dari suatupekerjaan.
3

Konsep Internet Publik
Dalam banyak penelitianmengungkapkan, kemudahan dalammengakses dan memperolehinformasi cukup berpotensi dalammengubah tatanan ekonomi dansosial dalam sebuah masyarakat.
8
 Namun demikian hal ini juga sangatmemungkinkan terjadinyaketimpangan informasi yangdisebabkan oleh tidak meratanyaakses kepada teknologi informasi,dimana terdapat suatu wilayah yangsangat kaya akan informasi, namun dilain hal terdapat wilayah yang sangatminim akan informasi. Perbedaanyang sangat kontras terlihat mulaidari perkembangan infrastrukturtelekomunikasi yang umumnyaterkonsetrasi pada wilayahperkotaan ataupun ibukota suatudaerah
9
, yang berimbas pada tidakmeratanya pembangunan saranakomunikasi dan informasi, danberujung pada terjadinya suatukesenjangan digital (
digital divide
).Untuk mengatasi hal tersebut,terdapat suatu konsep yang diyakinidapat menjembatani danmempersempit kesenjangan digitalyaitu dengan membangun suaturuang publik yang menyediakanakses internet dan layanan TIKkepada masyarakat umum khususnyadi wilayah yang kekurangan aksesdan infrastruktur TIK. Hal inibertujuan agar masyarakat yangtidak memiliki akses internet pribaditetap dapat menikmati layanan TIKterutama sambungan internet. Secaraumum terdapat 3 (tiga) bentukimplementasi dari internet publik,yaitu
telecenter 
,
internet café 
, dan
internet access point.
10
 Ketiga bentukinternet publik ini dibedakanberdasarkan kepemilikan, lokasi,pembiayaan, serta fasilitas-fasilitasyang tersedia di dalamnya.
Pusat Layanan Internet Kecamatan(PLIK)
Dalam mengatasi kesenjangandigital yang terjadi dan menjalankanhasil komitmen WSIS untukmenghubungkan semua desa denganTIK pada tahun 2015, KementerianKomunikasi dan InformatikaRepublik Indonesia telah melakukansejumlah kebijakan antara lainmelaksanakan program KewajibanPelayanan Universal/KPU (UniversalService Obligation/USO) seperti yangtertuang pada Peraturan MenteriKominfo Nomor32/PER/M.KOMINFO/10/2008. Salahsatu bentuk program USOKementerian Komunikasi danInformatika adalah penyediaan jasaakses internet pada WilayahPelayanan Universal Telekomunikasi(WPUT)internet kecamatan yangterbagi dalam 11 (sebelas) area.Program penyediaan jasa aksesinternet wilayah kecamatanKPU/USO dilaksanakan denganmembangunkios internet publik yangdinamakan Pusat Layanan InternetKecamatan (PLIK). Sarana iniditargetkan akan dibangun padasetiap ibukota kecamatan yangberjumlah 5.748 Satuan SambunganLangsung (SSL) yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia (kecualiDKI Jakarta) sehingga memungkinkanter- selenggaranya layanan internetdan penyebaran informasi lainnya didaerah-daerah non komersial.Konsep PLIK di sinisesungguhnya bukanlah sepertiwarung internet (warnet) padaumumnya. Terdapat aplikasi portalyang menjadi tampilan awal setelahpengguna melakukan proses loginmelalui aplikasi.Aplikasi portal tidakhanya sebagai pintu masuk menujusuatu aplikasi ataupun konten yangdikehendaki oleh pengguna, namunjuga merupakan
single point of view 
 bagi pengguna, karena aplikasi portalmenampilkan semua aplikasi danlayanan yang dapat diakses/digunakan oleh pengguna sepertiaplikasi perkantoran (
office
), konten,dan lain sebagainya.
METODE PENELITIAN
 Penelitian ini menggunakanpendekatan kualitatif dengan metodedeskriptif. Lokasi penelitianmengambil tempat di KabupatenPontianak Provinsi Kalimantan Barat,dan sumber data atau informandalam penelitian ini adalah parapengelola PLIK di KabupatenPontianak, pihak Dinas Perhubungan,Kebudayaan dan PariwisataKabupaten Pontianak, yang manasalah satu bagiannya menanganibidang telekomunikasi, sertaPemerintah Kecamatan setempat.Pengumpulan data dilaksanakanpada bulan Maret 2012, dandilakukan dengan tiga cara.
Pertama
,dengan melakukan wawancaramendalam kepada para pengelolaPLIK di Kabupaten Pontianak yangbertindak sebagai informankunci.Wawancara juga dilakukankepada pihak Dinas Perhubungan,Kebudayaan dan PariwisataKabupaten Pontianak dan Pemerintah Kecamatan setempatuntuk mendapat informasi tambahan.
Kedua
, dengan melakukan observasiterhadap kondisi PLIK di masing-masing kecamatan untuk mengamatisecara cermat, serta mencatattemuan-temuan yang relevan.Yang
ketiga
 adalah dengan melakukanstudi literatur melalui buku-buku danpenelitian-penelitian terdahulu.Analisis data kualitatif dimulaidari analisis berbagai data yangdiperoleh dari lapangan, baik dengancara wawancara, observasi, maupundokumentasi yang bersumber daribuku, literatur dan foto. Data tersebutkemudian diklasifikasikan ke dalamkategori-kategori tertentu yangdisesuaikan dengan permasalahandan tujuan penelitian.Pengklasifikasian ataupengkategorian ini harus mem-pertimbangkan kesahihan dankevalidan data denganmemperhatikan kompetensi subjekpenelitian, tingkat autensitasnya danmelakukan triangulasi sumber data.Terakhir adalah dengan menyajikandata dengan merangkai danmenyusun informasi dalam bentuksatu kesatuan, selektif, serta dapatdipahami.
HASIL DAN PEMBAHASAN 

Kondisi Umum dan Permasalahanpada PLIK di Kabupaten Pontianak
Berdasarkan data yangdiperoleh, Kabupaten Pontianakmendapat 9 (sembilan) set perangkatPLIK yang masing-masing disebar ke9 (sembilan) kecamatan. Hasilpengamatan langsung terhadap PLIKdi Kabupaten Pontianak menemukanbeberapa hal yang perlu dicermati.Secara fisik, kondisi perangkat kerasserta instalasi PLIK umumnya masihdalam keadaan baik mengingat umurperangkat yang tergolong masih baru.Adapun kerusakan komputer sepertiyang terjadi di Kecamatan Siantandisebabkan bukan karena kualitasperangkat yang kurang baik,melainkan karena faktor eksternalyaitu karena kebanjiran.Berdasarkan Tabel 1, satu-satunya perangkat yang kualitasnyapatut dipertanyakan adalah UPS,mengingat perangkat ini mengalamikerusakan di hampir semua lokasiPLIK. UPS (
Uninteraptible PowerSupply 
) adalah perangkat yangberfungsi sebagai
backup
 catu daya.Perangkat ini diperlukan untukmenjaga komputer
server billing
 dariputusnya aliran listrik PLN secaratiba-tiba yang dapat mengakibatkanhilangnya data pemakaianpengunjung dan juga kerusakan padasistem operasi dan perangkat lunak.Penyebab kerusakan UPS memangbelum diketahui secara pasti karenaperlu pemeriksaan oleh teknisi,namun diperkirakan penyebabnyaadalah kondisi listrik yang tidakstabil.Kemudian yang cukup menjadiperhatian adalah penggunaanperangkat lunak termasuk sistemoperasi. Sistem operasi yangdigunakan secara resmi untukprogram PLIK adalah sistem operasiLinux yang berbasis open source
Penggunaan sistem operasi Linuxdalam program PLIK bertujuan untukmensosialisasikan penggunaan
opensource software
 (OSS) di masyarakat.Di samping itu penggunaan sistemoperasi Linux bertujuan untukmenekan penggunaan sistem operasibajakan/illegal. Namun hal yangditemukan justru sebaliknya.Kebanyakan PLIK yang berada diKabupaten Pontianak telah dirubahke sistem operasi komersial(Windows OS) bajakan. Penggunaanperangkat lunak bajakan tentunyasudah menyalahi tujuan PLIK itusendiri dalam mensosialisasikanpenggunaan perangkat lunak
opensource
.Beberapa alasan yangdikemukakan para pengelola terkaitpenggantian sistem operasi PC
client
menjadi Windows ilegal umumnyakarena penggunaan Linux yangdinilai cukup merepotkan, disampingalasan teknis lainnya seperti gagalnyaproses
log-in
 akibat
 password 
 yangtidak sesuai. Namun secara umumdapat diketahui bahwa penggantiansistem operasi lebih dikarenakantidak familiarnya para pengelola danpengguna PLIK dalam menggunakansistem operasi Linux.Penggunaan sistem operasiberbasis
open source
 seperti Linuxdalam program PLIK sesungguhnyaadalah langkah yang sangat tepatdalam memperkenalkan masyarakatakan OSS. Disamping itupenggunaannya juga mendidikmasyarakat untuk tidakmenggunakan perangkat lunakbajakan karena tentunyabertentangan dengan hukum. Namundi lain hal, penggunaan perangkatlunak
open source
 terasa kurangfamiliar di kalangan masyarakatterlebih bagi yang masih awamdengan komputer dan internet. Olehkarena itu penggunaan OSS dalamPLIK mestinya didahului dengan
pengenalan dan pelatihan OSS bagipengelola, sehingga pengelola jugadapat memberikan pendampinganbagi masyarakat pengguna PLIK yangkesulitan ketika menggunakan OSS.Hasil pengamatan langsung kelapangan juga menemukan beberapapermasalahan dalam implementasidan penerapannya. Melihat darikendala operasional, pengirimanvoucher internet merupakan masalahyang utama. Di dalam sistem PLIK,voucher internet ibarat pulsa padatelepon genggam. Jika pulsa padasebuah telepon genggam telah habis,tentunya si pengguna tidak akandapat melakukan komunikasi.Demikian juga jika voucher internetpada server PLIK sudah habis,pengunjung tidak akan dapatmenggunakan layanan internet diPLIK. Di samping itu sistem
voucher 
 dibuat agar provider dapat mendataseberapa banyak penggunaansambungan internet olehpengunjung. Berdasarkan informasiyang diperoleh dari petugas DinasPerhubungan, pengiriman voucherinternet oleh ISP dilakukan secaraelektronik menggunakan nomoridentitas jaringan, dan setiap PLIKmemiliki nomor identitas jaringanyang unik. Oleh karena itudiperkirakan masalah dalampengiriman voucher internet dibeberapa lokasi PLIK terjadidisebabkan adanya kekeliruan datanomor jaringan pada ISP.Kegagalan dalam pengirimanvoucher internet mengakibatkanPLIK tidak dapat beroperasi, sepertiyang terjadi pada KecamatanMempawah Hilir, Sungai Kunyit, danSegedong, dimana PLIK bahkanbelum pernah beroperasi dari sejakawal pemasangan. Mengingat waktupemasangan yang berlangsungsekitar bulan Agustus 2010, makaterdapat kurang lebih 1,5 tahunperangkat PLIK terbengkalai dantidak termanfaatkan. Dalam hal inikurangnya dukungan teknis olehpihak penyedia juga dirasakan.Dari uraian di atas, maka dapatdirangkum 2 (dua) halyang dapatdianggap menjadi kendala danpermasalahan yang bersifat teknisyang terjadi pada PLIK di KabupatenPontianak yaitu (1) kerusakanbeberapa perangkat, baik ituperangkat komputer ataupunperangkat pendukung jaringan; dan(2) Penggunaan sistem operasi danperangkat lunak ilegal/bajakan.Disamping itu juga terdapat 1 (satu)permasalahan yang dianggap bukanpermasalahan teknis, namun lebihpada aspek kebijakan dimana haltersebut tidak terkait padakompetensi pengelola, yaitu perihalterkendalanya pengiriman voucherinternet yang mengakibatkan tidakberoperasinya PLIK.
Kompetensi Pengelola di BidangTIK
Seperti yang telah diuraikansebelumnya, kompetensi SDM sangatberpengaruh pada kualitas hasil kerjaindividu dan kinerja organisasi.Demikian pula halnya dalammengelola PLIK yang terdiri dariperangkat-perangkat komputer
beserta jaringannya,adalah suatukeharusan bagi SDM pengelolamemiliki kompetensi teknis di bidangTIK. Hal ini diperlukan untukmenjamin bahwa PLIKdapat berjalandengan baik tanpa terkendalapermasalahan teknis dan perangkat.Kompetensi teknis yang terdiridari aspek pengetahuan dan aspekketerampilan dapat diukur melaluibeberapa indikator. Aspekpengetahuan diukur denganindikator-indikator yaitu (1) tingkatpendidikan formal; (2) pelatihanteknis yang pernah diikuti; (3)kemampuan menguasai pekerjaan.Sedangkan aspek keterampilandiukur dengan indikator-indikator:(1) petunjuk teknis pekerjaan; dan(2) ketelitian dalam menyelesaikanpekerjaan.
11
 Pendidikan formal merupakandasar utama dalam memperolehpengetahuan umum danketerampilan, meskipun pendidikannon formal seperti pelatihan dankursus juga mampu meningkatkanpengetahuan, keterampilan,profesionalitas, produktivitas sertadaya saing.
12
Dari segi pendidikantidak satupun pengelola PLIK pernahmengenyam pendidikan formal dibidang TIK ataupun komputer.Demikian halnya dengan pendidikannon formal, dimana hanya satupengelola yang pernah mengikutikursus komputer. Umumnya merekamemperoleh pengetahuan mengenaikomputer melalui pembelajaranmandiri secara otodidak serta daribuku-buku.Dari aspek penguasaankomputer dan aplikasi, parapengelola lebih berpengalamanmenggunakan sistem operasiWindows beserta aplikasipendukungnya, namun pengetahuandalam mengoperasikan sistemoperasi berbasis
open source
 terlihatsangat minim. Hanya pengelola dariKecamatan Anjongan yang mengakumengerti mengoperasikan Linuxsebagai sistem operasi. Rendahnyatingkat pemahaman akan sistemoperasi Linux tentunya dapatmenggambarkan mengapa umumnyasistem operasi komputer di PLIKtelah diubah dari Linux ke Windows.Disamping itu pengetahuanpengelola dalam aspek teknisperangkat keras (
hardware
)komputer serta penanganan masalahdalam komputer juga masih cukuprendah, kebanyakan dari merekatidak memahami fungsi-fungsiperangkat keras komputer, terlebihlagi dalam hal mendiagnosa danmemperbaiki atau menggantiperangkat yang rusak. Sehinggaketika terjadi kegagalan dankerusakan pada perangkat pengelolaumumnya berkonsultasi denganteknisi. Selengkapnya matrikkompetensi teknis para pengelolaPLIK di Kabupaten Pontianakdisajikan dalam Tabel 2.Begitupun penguasaan dalamhal administrasi jaringan masihbelum memadai, dimana terdapat 4(empat) pengelola yang sama sekalitidak memahami konsep jaringankomputer. Lemahnya pengetahuan
pengelola dalam aspek teknisperangkat keras dan jaringankomputer mengakibatkan pengelolabelum dapat menangani masalahsecara mandiri dan sangatbergantung pada bantuan teknisikomputer.“
… untuk kerusakan perangkatbiasanya kami menggunakan jasaorang lain
”.(Wawancara: Bpk. Hifni, S.Pd.,Pengelola PLIK Sungai Kunyit)
Kompetensi yang Dibutuhkandalam Pengelolaan PLIK
Jika melihat dari kebutuhankerja yang ada dan permasalahanyang terjadi pada PLIK, sertaberdasarkan kategori kompetensi TIKyang dikemukakan oleh Sadikin(2011), maka dibutuhkan kompetensiteknis yang setara dengankompetensi seorang
technicalsupport 
. Merujuk pada StandarKompetensi Kerja Nasional Indonesia(SKKNI) Sektor Teknologi Informasidan Komunikasi, maka keahlian atauunit kompetensi yang dibutuhkanseorang
technical support
dapatdibagi kepada 4 (empat) unsur yaituperangkat keras (
hardware
),perangkat lunak (
software
),perangkat jaringan, dan keamanan.Untuk memenuhi kebutuhanakan kompetensi tersebutseyogyanya pengelola PLIK dipilihdengan lebih selektif di manasebaiknya memiliki pengetahuan dibidang TIK atau pendidikan yangmendukung hal tersebut.
Sebagai alternatif lain,pemberian pelatihan-pelatihanmengenai teknis jaringan komputerdan perangkat juga sangat baik untukdilakukan. Pelatihan dirasa cukupefektif untuk mengembangkanpengetahuan dan kompetensipegelola di bidang TIK. Sebab tidakdapat dipungkiri, pengetahuan teknisseperti perbaikandan instalasiperangkat lunak/keras merupakanhal yang sangat penting untukdimiliki pengelola PLIK, sehingga jikaterjadi permasalahan pada perangkatdapat segera dideteksi dan ditanganisendiri. Hal ini tentu cukupmenghemat waktu dan biaya jikadibandingkan dengan harusmenggunakan jasa teknisi.
SIMPULAN
 Sesuai tujuan penelitian ini,terdapat 2 (dua) hal yang menjadikesimpulan.Yang
 pertama
 adalahbahwa kompetensi teknis pengelolaPLIK di bidang TIK masih dirasa
belum cukup memadai dan masihperlu untuk ditingkatkan.Hal inididasarkan pada unit kompetensiyang terdapat pada SKKNI bidangComputer Technical Support.Pengelola umumnya hanya memilikipengetahuan dasar dalammengoperasikan komputer danaplikasi, sedangkan dalam aspekpengetahuan dalam menggunakanaplikasi
opensource
,jaringankomputer, dan pemahaman perangkatkeras serta penanganan masalah(
troubleshoot 
) masih sangat kurang.Sebagai kesimpulan yang
kedua
,kompetensi yang dibutuhkanpengelola PLIK dalam mengatasipermasalahan teknis adalahkompetensi seorang
technical support 
,yang meliputi pengetahuan dankeahlian dalam melakukan instalasi,konfigurasi,
upgrading
, perawatan,diagnosa dan perbaikan perangkatlunak, perangkat keras, sertaperangkat jaringan.Disamping itu jugamemiliki pengetahuan dalam aspekkeamanan seperti mencegah, danmengambil tindakan ketika terjadiserangan virus pada kondisimenggunakan sistem operasi non
open source
, serta mampu melakukan
backup
 data serta
recovery 
 ketikaterjadi kegagalan pada sistemkomputer.Sebagai rekomendasi, dari hasilpenelitian ini diharapkan adanyapengembangankompetensi teknisberupa peningkatan pengetahuan danketerampilan pengelola PLIK dibidang TIK.Pengembangankompetensi dapat dilakukan denganmemberikan pendidikan danpelatihanbagi pengelola sehinggamereka dapat lebih mandiri ketikaterjadi permasalahan di lapangan.Suatu permasalahan yang terjadidi satu PLIK dapat menjadipembelajaran bagi PLIK lainnya. Olehkarena itu Kominfo ataupun pihakpenyedia seyogyanyadapatmemfasilitasi sebuah wadahkomunikasi maya semisal forumataupun
mailing list 
antara parapengelola, pihak penyedia, danKominfo.Hal ini dapat menjadialternatif media komunikasi untukberbagi informasi dan pengalamanseputar PLIK dan permasalahannya.
DAFTAR PUSTAKA
 1
Rogers, E. M. 1986.
CommunicationTechnology: The New Media inSociety 
. New York: Free Press.
2
Prianova, Indra Pratama. 2010.
Strategi ImplementasiPenyediaan Pusat LayananInternet Kecamatan (PLIK) padaPelaksanaan KewajibanPelayanan UniversalTelekomunikasi (KPU/USO) diIndonesia
. Thesis. UniversitasIndonesia, Jakarta
3
Vathanophas, V. & Thai-ngam, J.2007.
Competency Requirements for Effective Job Performance inThai Public Sector 
.Contemporary ManagementResearch, 3 (1): 45-70.
4
Hutapea, P., Nurianna, T. 2008.
Kompetensi Plus
. Jakarta: PTGramedia Pustaka Utama
5
Wibowo. 2007.
Manajemen Kinerja
.Jakarta: PT RajaGrafindoPersada.
6
Spencer, Lyle M., Jr. and Spencer,Signe M. 1993.
Competence AtWork 
. New York: John Wiley &Sons, Inc.
7
Wijayanto, A., dkk. 2011.
Faktor- faktor yang MempengaruhiKompetensi Kerja Karyawan
.Manajemen IKM, 6 (2): 81-87.
8
Rogers, E. M., Shukla, P., 2001.
TheRole of Telecenters inDevelopment Communication andthe Digital Divide
. Journal ofDevelopment Communication 2(12): 26-31.
9
Mutula, Stephen M. 2003.
Cyber caféindustry in Africa
. Journal ofInformation Science, 29.
10
Wahid, F., Furuholt, B., Kristiansen,S. 2004.
Global Diffusion of theInternet III: Information Diffusion Agents and the Spread of InternetCafés in Indonesia
.Communication of theAssociation for InformationSystem, 13: 589-614.
11
Budiyasa, I Made Astika. 2010.
Pengaruh Motivasi Kerja,Kepuasan Kerja, DanKemampuan Kerja TerhadapPrestasi Kerja Karyawan PadaPT. Sumber Alam Semesta DiBangli
. Thesis. UniversitasUdayana, Denpasar.
http://www.pps.unud.ac.id  diakes tanggal 17 September 2012.
12
Hiryanto. 2009.
MeningkatkanEfektivitas Pendidikan Nonformaldalam Pengembangan KualitasManusia
. Makalah. UniversitasNegeri Yogyakarta, Yogyakarta.
http:/ 

 /staff.uny.ac.id  diaksestanggal 26 September 2012.